Kisah Nyata Tragedi Persalinan di Atas Kapal

kisah-nyata-tragedi-persalinan-di-atas-kapal

Kisah Nyata Tragedi Persalinan di Atas Kapal – Lelaki itu menatapku sambil meminta maaf karena udah menyebabkan perjalanan kapal yang kunaiki terhambat. “Tak kudu dipikirkan Pak,” jawabku. “Saya doakan anak istri Bapak selamat.” Kemudian dia meminta doa kepada seluruh penumpang. Di matanya terbayang kekhawatiran.

Kisah Nyata Tragedi Persalinan di Atas Kapal

kisah-nyata-tragedi-persalinan-di-atas-kapal

genericviagraforsaleusa.com – Ini adalah kisah nyata yang kualami sewaktu di dalam perjalanan menaiki kapal berasal dari Melak menuju Samarinda. Di sedang perjalanan inilah saya bertemu dengan seorang laki laki beserta istrinya.

Lelaki itu berasal berasal dari sebuah kampung kecil di pedalaman Kutai Barat, Kalimantan Timur. judibolalive99 Dia terpaksa membawa istrinya yang hamil tua menaiki kapal menuju Kota Samarinda karena kandungan istrinya sungsang. Bidan di desanya menganjurkan supaya istrinya segera dibawa ke rumah sakit supaya bisa dikerjakan tindakan operasi.

“HPL-nya masih 2-3 hari lagi,” katanya sambil menenangkan diri.

Namun, kita seluruh tahu, kelahiran bayi bisa maju atau mundur berasal dari perkiraan. Kenyataannya kini bayinya udah siap lahir. Salah satu kaki mungilnya udah keluar. Bayi itu mendambakan segera memandang dunia, tetapi agaknya dunia belum siap menyambutnya.

Kapal kita terpaksa berkunjung di sebuah perkampungan yang lebih terpencil daripada kampung asal si laki laki tadi. Setelah lama dicari-cari, ternyata tak tersedia bidan di kampung itu, cuma tersedia dukun bayi! Maka, persalinan yang semestinya cuma boleh dikerjakan oleh seorang dokter Sp.OG dengan peralatannya yang lengkap, kini terpaksa ditangani secara tradisional oleh seorang dukun bayi dengan peralatan seadanya.

Proses persalinan pun berjalan di atas kapal yang bergerak menyusuri Sungai Mahakam, di dalam suasana sunyi dan mencekam.

Setelah memakan waktu lama, pada akhirnya bayi berjenis kelamin laki-laki itu berhasil dikeluarkan. Lega? Belum, karena ternyata si bayi tidak mengeluarkan suara. Tak tersedia tangisan! Bayi mungil itu lebih-lebih tidak bergerak. Meski sang dukun udah berkali-kali menepuk-nepuk pantat si bayi, selalu saja tak tersedia reaksi.

Ayah si bayi merasa tersedu. Dia ciumi bayinya sambil mengiba kepada Tuhan. Hatiku sedih dan terharu. Semua yang memandang pasti akan merasakan itu.

Sang dukun cuma menjelaskan si bayi di dalam suasana lemas. Dia tak menjelaskan bayi masih hidup atau udah meninggal. Dan di antara kita pun tak tersedia yang tega menanyakan soal itu. Aku beranjak mendekati bayi itu, kulihat kakinya merasa membiru. Keajaiban, semoga berkunjung keajaiban.

Kapal kita pun lagi berhenti berkunjung di sebuah kampung yang lumayan ramai. Di situ udah menanti seorang bidan profesional. Dengan sigap dia mengeluarkan peralatannya lantas memeriksa suasana bayi. Tak lama kemudian, bidan muda itu pun menggeleng-gelengkan kepala. Si bayi dipastikan udah tiada.

Peristiwa memilukan ini mungkin sekedar hal yang biasa bagi para penumpang lainnya, yang cuma menjadi bahan cerita untuk kemudian dilupakan begitu saja. Tapi bagiku, momen ini meninggalkan kesan mendalam dan seperti memiliki kandungan pelajaran bagiku. Sebab, terhadap waktu kisah ini terjadi, istriku sedang di dalam suasana hamil tua. Aku sedang menantikan kelahiran putra pertama.

Dulu, terhadap awal hingga pertengahan kehamilannya, saya sering mengajak istriku bolak-balik Sendawar-Samarinda-Balikpapan, suatu perjalanan yang amat jauh! Dengan terdapatnya momen ini dan dengan semakin tuanya umur kehamilan istriku, saya menentukan tak akan lagi mengajak istriku melakukan perjalanan jauh. Dan saya juga udah kudu meyakinkan di kota mana istriku akan melahirkan.

Tak persoalan jikalau kudu melahirkan di kota kecil, yang penting di kota itu tersedia rumah sakit yang bisa menjadi rujukan seandainya tersedia kelainan di dalam sistem persalinan dimana bidan tidak bisa menanganinya.

Namun kusadari, sehabis lewat segala bisnis dan persiapan yang maksimal, terhadap pada akhirnya doa dan kepasrahan kepada Tuhan-lah yang menjadi ujung berasal dari segalanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *