Pembuat Sepeda Treadmill Asal Samarang Pernah Tinggal di Gerobak

Pembuat Sepeda Treadmill Asal Samarang Pernah Tinggal di Gerobak – Sulaji, warga Kota Semarang pembuat sepeda treadmill yang viral di fasilitas sosial ternyata pernah tidur di gerobak dengan keluarganya selama dua tahun. Hal itu terpaksa dijalankan sebab tak miliki duwit untuk bayar biaya tempat tinggal.

Pembuat Sepeda Treadmill Asal Samarang Pernah Tinggal di Gerobak

Pembuat Sepeda Treadmill Asal Samarang Pernah Tinggal di Gerobak

“Mau gimana lagi, sebab uangnya terbatas selanjutnya terpaksa tinggal di gerobak dengan istri dan anak saya,

Sebelum jadi tukang tambal ban, Sulaji bekerja sebagai tukang becak. Uang yang didapatkannya terhitung tak banyak. Penghasilannya cuma memadai digunakan untuk makan istri dan anaknya.

“Menjadi tukang becak penghasilannya tidak seberapa, boro-boro cari kost atau kontrakan” ucapnya.

Meski waktu itu mengalami hidup susah, keluarganya konsisten mengimbuhkan impuls kepada Sulaji. Hal itulah yang membuatnya bisa bertahan sampai waktu ini. Perjalan hidupnya sesungguhnya tak mudah. Bahkan Ia tak menyangka kalau sepeda yang ia buat dapat viral.

“Yang tentu sebab perlindungan keluarga. Alhamdulillah perjalanan hidupnya semakin baik,” ujarnya.

Bu Mul, istri Sulaji mengakui kalau perjalanan hidup dengan suaminya tak mudah. Namun ia tak pernah putus asa untuk berikan perlindungan kepada Sulaji. Meski pernah tiinggal di gerobak, Bu Mul tetap setia menemani perjalanan hidup Sulaji.

“Iya kalau ingat masa-masa itu, berat banget. Sebenarnya sempat membuka warung juga. Namun telah tidak bisa sebab tempatnya tak boleh untuk jualan lagi,” katanya.

Dari dulu, ia mengenal Sulaji adalah sosok pekerja keras dan pantang menyerah. Sebenarnya, suaminya itu tak cuma memicu sepeda unik kali ini saja. Sebelumnya, Sulaji terhitung pernah memicu sepeda panjangnya lebih kurang 5 meter.

“Panjang banget pernah sepeda yang sebelum akan ini. Bahkan melebihi panjangnya mobil. Tak cuma itu, berjalannya sepeda itu cuma manfaatkan aki. Pernah kami bawa dari Semarang ke Purwodadi,” imbuhnya.

Ia bersyukur, waktu ini keluarganya telah membawa rumah. Meski sederhana, setidaknya telah tidak tinggal di gerobak lagi. Baginya, bisa sampai step ini butuh proses yang memadai panjang.

“Sudah banyak makan manis garam kehidupan. Saya bersyukur bisa sampai waktu ini miliki rumah sendiri,” imbuhnya.

Saat ini, Bu Mul dan Sulaji bekerja sebagai tambal ban. Keduanya membagi waktu terhadap jam-jam khusus untuk gantian jaga sebab Bu Mul terhitung harus mengurus ke-2 anakanya Ali dan Rokah.

“Biasanya pagi saya yang berangkat duluan, nanti agak siang gantian Sulaji yang jaga,” jelasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *